gacx penting juga kan tw...

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Upacara Perkawinan

Upacara Perkawinan Adat Bali

Dalam ajaran Hindu terdapat empat tahap dalam mencapai tujuan hidup, adapun tujuan hidup tersebut dinamakan Catur Purusa Artha terdiri dari Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Dalam pelaksanaannya dilakukan secara bertahap.
Sementara dalam Perkawinan  adalah bentuk perujudan dari suatu usaha untuk mencapai tujuan hidup. Dalam lontar Agastya Parwa disebutkan "Yatha sakti Kayika Dharma" ini bermakna dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma
Upacara perkawinan pada hakekatnya adalah upacara persaksian ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah mengikatkan diri sebagai suami-istri. Sedangkan pengertian perkawinaan sendiri adalah jalinan ikatan secara lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk suatu keluarga yang bahagia dan abadi selamanya hingga akhir usia.
Bila seseorang sudah berniat melakukan perkawinan, diharapkan sudah mereka sudah siap lahir dan batin dalam menempuk bahtera rumah tangga kelak.
Dalam perkawinan  umat Hindu di Bali, ada dua tujuan hidup yang harus dapat diselesaikan dengan tuntas yaitu mewujudkan artha dan kama yang berdasarkan Dharma.
Sebelum seseorang memasuki jenjang perkawinan dibutuhkan suatu bimbingan, nasehat dan wejangan agar dalam pelaksaanaannya nanti tidak mengalami kendala, masalah yang mungkin akan timbul dalam mengarui biduk bahtera rumah tangga, bimbingan ini diberikan dari orang yang mengerti dan ahli dalam bidang agama Hindu, orang  yang mengerti agama ini akan menerangkan apa yang menjadi tugas dan kewajiban  bagi orang yang telah terikat dalam pernikahan sehinggabisa mandiri di dalam mewujudkan tujuan hidup mendapatkan artha dan kama berdasarkan Dharma.
Lalu dilanjutkan dengan proses penyucian diri yang bertujuan memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya (umat Hindu di Bali percaya leluhur yang sudah meninggal dapat berenkarnasi dalam perujudan anak cucu kembali) untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik, itu adalah manfaat jadi manusia. Melahirkan anak lewat perkawinan mengasuh, membimbing, memeliharanya dan mendidik dengan penuh kasih sayang sesungguhnya suatu yadnya kepada leluhur. Terlebih lagi kalau anak tersebut dapat menjadi manusia yang sempurna, akan merupakan suatu perbuatan melebihi seratus yadnya, demikian disebutkan dalam Slokantara.
Perkawinan bagi umat Hindu merupakan sesuatu yang suci dan sakral. Saat itu perkawinan layak atau tidak nya ditentukan oleh seorang Resi, dimana sang Resi (Bramana Sista) ini mampu melihat lewat mata batin cocok tidaknya dari pasanngan yang akan dinikahkan, bila tidak cocok atau jodoh akan dibatalkan karena bisa berakibat buruk bagi kehidupan rumah tangga mereka nanti. Namun seiring masa berganti dan pertimbangan duniawi lebih mempengaruhi orang tua dalam memilih jodoh untuk anak anak mereka dan bukan lagi nilai budi pekerti yang di junjung tinggi
Pernikahan adat Bali menggunakan sistem patriarki  yaitu semua tahapan dan proses pernikahan dilakukan di rumah mempelai pria.
Menurut UU perkawinan no 1 thn 1974, sah tidaknya suatu perkawinan adalah sesuai menurut  hukum dan agama masing masing.
Proses upacara adat pernikahan di Bali  disebut “ Mekala-kalaan (natab banten). Pelaksaan upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta yang diadakan di halaman rumah sebagai titik sentral kekuatan Kala Bhucari yang dipercaya sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan.
Makalan-kalaan sendiri berasal dari kata Kala yang mengandung pengertian energi. Upacara mekala-kalaan ini mempunyai maksud untuk menetralisir kekuatan kala/energi yang bersifat buruk/negatif dan berubah menjadi positif/baik.
Adapun maksud dari upacara ini adalah sebagai pengesahan perkawinan antara kedua mempelai dan sekaligus penyucian benih yang terkandung di dalam diri kedua mempelai.
Peralatan Mekala-kalaan dan symbol upacara adat perkawinan Bali
  • Sanggah Surya/bambu melekungmerupakan niyasa (simbol) istana Sang Hyang Widhi Wasa, ini merupakan istananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung simbol kekuatan purusa dari Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya sebagai dewa kebajikan, ketampanan, kebijaksanaan simbol pengantin pria dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi beremsimbol kekuatan prakertinya Sang Hyang Widhi dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih dewi kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita.
  • Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg)simbol calon pengantin yang diletakkan     sebagai alas upacara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin.
  • Tikeh Dadakan (tikar kecil)Tikar yang diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual, tikar adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni).
  • Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria. Biasanya nyungklit keris, dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria.
  • Benang Putihdibuatkan sepanjang setengah meter, terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu, serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm. Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari, yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut. Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan, berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dariBrahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama.
  •  Tegen – tegenanMakna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil alihan tanggung jawab sekala dan niskala. Adapun Perangkat tegen-tegenan ini :
  1. Batang tebu berarti hidup pengantin mengandung arti  kehidup dijalani secara bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas, secara manis.
  2. Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. Cangkul sebagai alat bekerja, berkarma berdasarkan Dharma.
  3. Periuk simbol windhu.
  4. Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi).
  5. Seekor yuyu/kepiting simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan.
  • Suwun-suwunan(sarana jinjingan)Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita yang berisi talas, kunir, beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami, diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar.
  • Dagang-daganganmelambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang.
  • Sapu lidi (3 lebih). Simbol Tri Kaya Parisudha. Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain, isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna berdasarkan ucapan baik, prilaku yang baik dan pikiran yang baik, disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga.
  • Sambuk Kupakan (serabut kelapa). Serabut kelapa dibelah tiga, di dalamnya diisi sebutir telor bebek, kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam, rajas, tamas). Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) mengisyaratkan kesucian.Telor bebek simbol manik. Kedua Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali, setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. Ini mengandung pengertian Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah, serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. Selalu ingat dengan penyucian diri, agar kekuatan triguna dapat terkendali. Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai.
  • Tetimpugadalah bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma.
(Sumber Asli)
Rangkaian tahapan upacara pernikahan adat Bali:
Upacara Ngekeb:
Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga dengan memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa keturunan yang baik.
Setelah itu pada sore harinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang telah dihaluskan. Dipekarangan rumah juga disediakan wadah berisi air bunga untuk keperluan mandi calon pengantin. Selain itu air merang pun tersedia untuk keramas.
Sesudah acara mandi dan keramas selesai, pernikahan adat bali akan dilanjutkan dengan upacara di dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar itu telah disediakan sesajen. Setelah masuk dalam kamar biasanya calon pengantin wanita tidak diperbolehkan lagi keluar dari kamar sampai calon suaminya datang menjemput. Pada saat acara penjemputan dilakukan, pengantin wanita seluruh tubuhnya mulai dari ujung kaki sampai kepalanya akan ditutupi dengan selembar kain kuning tipis. Hal ini sebagai perlambang bahwa pengantin wanita telah bersedia mengubur masa lalunya sebagai remaja dan kini telah siap menjalani kehidupan baru bersama pasangan hidupnya.
Mungkah Lawang (Buka Pintu):
Seorang utusan Mungkah Lawang bertugas mengetuk pintu kamar tempat pengantin wanita berada sebanyak tiga kali sambil diiringi olehseorang Malat yang menyanyikan tembang Bali. Isi tembang tersebut adalah pesan yang mengatakan jika pengantin pria telah datang menjemput pengantin wanita dan memohon agar segera dibukakan pintu.
Upacara Mesegehagung:
Sesampainya kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria, keduanya turun dari tandu untuk bersiap melakukan upacara Mesegehagung yang tak lain bermakna sebagai ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita, kemudian keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. Ibu dari pengantin pria akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada pengantin wanita bahwa kain kuning yang menutupi tubuhnya akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang Bali dan biasanya berjumlah dua ratus kepeng
Madengen–dengen:
Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi negatif dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian
Mewidhi Widana:
Dengan memakai baju kebesaran pengantin, mereka melaksanakan upacara Mewidhi Widana yang dipimpin oleh seorang Sulingguh atau Ida Peranda. Acara ini merupakan penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara acara sebelumnya. Selanjutnya, keduanya menuju merajan yaitu tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa. Acara ini dipimpin oleh seorang pemangku merajan
Mejauman Ngabe Tipat Bantal:
Beberapa hari setelah pengantin resmi menjadi pasangan suami istri, maka pada hari yang telah disepakati kedua belah keluarga akan ikut mengantarkan kedua pengantin pulang ke rumah orang tua pengantin wanita untuk melakukan upacara Mejamuan/menerima tamu. Acara ini dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita, terutama kepada para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian dalam keluarga besar suaminya. Untuk upacara pamitan ini keluarga pengantin pria akan membawa sejumlah barang bawaan yang berisi berbagai panganan kue khas Bali seperti kue bantal, apem, alem, cerorot, kuskus, nagasari, kekupa, beras, gula, kopi, the, sirih pinang, bermacam buah–buahan serta lauk pauk khas Bali

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Video Taman Ujung


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

                            BUDAYA TRUNYAN  




Trunyan, suatu lokasi di pinggir danau batur. Merupakan suatu area yang dihuni oleh penduduk asli Bali, dan terkenal dengan "pemakaman" terbuka yang unik. Untuk mencapai lokasi kita harus menggunakan jasa perahu motor yang tersedia di pinggir danau batur. Biasanya para calo menawarkan tarif Rp. 200 ribu per perahu PP, tapi harga itu masih bisa ditawar .... saya sendiri cukup membayar Rp. 150ribu per perahu PP, sharing dengan wisatawan lain yang pengen melihat trunyan. Perjalan ke lokasi kurang lebih memakan waktu 20 menit.

Konon penduduk didaerah trunyan adalah penduduk asli Bali, sebelum kedatangan penduduk Bali yang merupakan keturunan "Mojopahit". Didaerah trunyan, penduduk memiliki adat pemakaman yang cukup unik. Dimana bila ada warga yang meninggal, jenasah "dimakamkan" di atas batu besar yang memiliki cekungan 7 buah. Cekungan itu sendiri terbentuk secara alamiah saat Gunung Agung meletus. Jenasah hanya diletakkan begitu saja diatas cekungan batu dengan hanya dipagari bambu anyam secukupnya. Uniknya, meskipun sudah berhari-hari dan tidak di"balsem" tetapi jenasah sama sekali tidak bau.
Rahasia mayat-mayat tidak menyebarkan bau busuk ternyata terletak pada pohon Taru Menyan yang dibiarkan tumbuh lestari dan rimbun di sekitar tempat pemakaman tersebut. Bau harum yang dikeluarkan oleh pohon Taru Menyan ini mengalahkan bau busuk yang dikeluarkan oleh jenazah yang membusuk sampai akhirnya tinggal kerangka tulang. Saya sendiri menyaksikan dari jarak kurang dari 1 meter jenasah yang sudah berumur 3 minggu, tetapi tidak sedikitpun tercium bau busuk. Konon nama Desa Trunyan diambil dari nama pohon Taru Menyan ini.







[navigasi.net] Budaya - Trunyan


Desa ini memiliki tiga jenis kuburan, yang terdiri dari kuburan utama, diperuntukkan bagi jenazah orang yang dianggap paling suci/baik dan meninggal secara wajar dengan jazad utuh. Biasanya orang -orang yang dikuburkan disini adalah pemuka agama dan pemimpin atau pemuka adat dan lain-lain yang dihormati. Kuburan yang kedua adalah kuburan bagi orang dewasa dan bayi yang meninggal dengan jasad utuh. Sedangkan untuk kuburan yang terakhir adalah kuburan bagi orang-orang yang meninggal secara tidak wajar seperti dikarenakan bunuh diri, bencana alam atau kecelakaan lalu lintas dan sebagainya yang jenazahnya tidak lengkap atau cacat.
Yang perlu menjadi perhatian bila ke trunyan adalah para "Guide"-nya !. Hati-hati dengan para "Guide" liar disana, karena pada awalnya mereka cukup ramah dengan menawarkan jasa untuk mendampingi kita melihat-lihat dan menceritakan hal-hal yang terkait dengan "trunyan". Tetapi pada saat kita hendak pulang, mereka akan mendesak kita terus untuk memberikan uang jasa "Guide".

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PARIWISATA MANGROVE

Mangrove 

 Beberapa hari lalu, tepatnya hari Selasa, 29 Juli 2008, saya berkesempatan menjadi moderator di sebuah Seminar Nasional, bertemakan Mangrove, yang dibuka oleh Walikota Surabaya, Bambang DH. Terasa spesial, karena hadir juga disitu pakar Mangrove dari IPB, Prof. Alikodra yang turut sumbang ilmu kepada para peserta. Beliau sempat memuji bahwa Walikota Surabaya adalah walikota ke-2 yang memiliki kepedulian tentang mangrove dengan menghadiri dan membuka langsung acara, walikota pertama yang juga antusias dan memiliki perhatian terhadap mangrove adalah Walikota Tarakan. Seminar ini diselenggarakan oleh Siklus PLH ITS, PT. HM Sampoerna, dan Pemerintah Kota Surabaya.

Terlepas dari itu semua, yang patut dicatat adalah perlunya kita untuk melestarikan hutan mangrove. Saya perlu meringkas kembali sejenak bahwa hutan mangrove sangat penting karena memiliki peran penting dalam kehidupan kita. Ia berperan dan memiliki andil dalam hal sosial, ekologi, lingkungan, dan ekonomi. Ekosistem mangrove adalah sebuah "kompleks perumahan" milik biota, mikroorganisme, burung-burung, ikan serta hewan lain yang memiliki peran penting terhadap manusia. Yang sudah jelas adalah, berbagai ikan-ikan serta beberapa hewat menjadi konsumsi manusia. Dan beberapa diantara spesies-spesies tersebut dijual untuk mendapatkan nilai ekonomis. Selain itu, hasil hutannya sendiri, terutama arang, menjadi komoditas perdagangan yang sangat laku dijual, utamanya di negara-negara yang memiliki musim dingin.

Mari beralih ke masalah lingkungan. Beberapa fungsi penting mangrove adalah mengurangi abrasi pantai, serta mengurangi tekanan ombak laut. Kita tentu tahu, akar-akar khusus mangrove yang mencengkeram daratan mampu menahan laju ombak yang dapat menimbulkan erosi. Selain itu, adanya pepohonan, daun-daunan, menyebabkan mangrove mampu bertindak sebagai "perangkap" angin laut yang dingin. Hal ini sangat menguntungkan manusia dari sisi ekologis. Terlepas dari keuntungan-keuntungan hutan mangrove yang sangat banyak yang hanya tuliskan secuplik saja disini, sekarang tengah digencarkan program lestari mangrove, yang tujuannya untuk memperbanyak hutan mangrove. Tentu saja untuk mewujudkan ini semua ada beberapa aspek yang harus dipenuhi: edukasi, teknis, dan kebijakan.

Pendidikan dan pengarahan tentang mangrove sangatlah perlu, karena berdasarkan fakta dan pengalaman, ada nelayan yang keberatan pantainya ditanami mangrove, karena akan mengganggu perahunya untuk ke laut. Selain itu, beberapa program penanaman mangrove yang sudah berjalan, ditebang secara tidak bertanggung jawab oleh oknum tertentu, dan ini tidak termonitor oleh masyarakat setempat. Untuk itu, perlu adanya pengarahan tentang pentingnya partisipasi masyarakat untuk menanam dan mengawasi keberadaan mangrove-mangrove tersebut.Tanaman yang bisa ditanam untuk keperluan hutan mangrove sangatlah spesifik tergantung lokasi dan tipe daratan yang ada. Beberapa tanaman mangrove memiliki akar-akar yang berbeda dengan spesies mangrove yang lain. Untuk itu, sangatlah penting untuk mengetahui tipe tanaman yang cocok untuk tipe tanah tertentu. Hal inilah yang kemudian memunculkan zoning mangrove.

Zona-zona mangrove inilah yang perlu untuk dipelajari dari sisi teknis. Kegiatan ini tentu saja tidak bisa lepas dari dukungan pemerintah melalui kebijakan-kebijakan pemimpinnya. Surabaya, oleh Walikota Surabaya, memiliki kurang lebih 15.000 kader lingkungan yang siap diterjunkan untuk bergerak di bidang lingkungan, khususnya penanaman mangrove. Hal ini tentu saja positif mengingat Surabaya adalah kota yang dianggap sangat peduli terhadap lingkungan. Inti saran untuk melestarikan hutan mangrove adalah pentingnya komitment. Membangun sebuah kesadaran membutuhkan waktu tidak kurang dari 10 tahun untuk bisa terlihat hasilnya. Untuk itu, sangat penting untuk mulai dari diri kita sendiri, minimal memiliki komitmen untuk berkolaborasi dan bekerja sama dengan pihak lain mewujudkan lestari mangrove.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pariwisata Uluwatu


 Pura Luhur Uluwatu 


Pura Luhur Uluwatu berada di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Pura Luhur Uluwatu berada di sebelah selatan, Bali digunakan untuk memuja Dewa Rudra. Lokasinya Pura Uluwatu berada kira-kira 25 km ke arah selatan dari Kuta. Pura Uluwatu berada di ujung selatan pulau Bali dan menghadap ke arah Samudra Hindia, Pura Uluwatu ini berdiri di atas batu karang yang posisinya berada di ujung tebing yang sangat tinggi dan curam dengan ketinggian kira-kira 50 meter. Pura Uluwatu sangat menarik dan indah karena di pura ini terdapat monyet berekor panjang yang menjaga pura ini dan sangat usil dengan para pengunjung pura ini, dapat melihat matahari terbenam yang sangat indah dan tarian bali yang sudah terkenal ke seluruh dunia yaitu tari kecak. Di Pura Uluwatu ini dapat juga melihat keindahan dari ombak laut yang sangat indah, berwarna putih. Dewa Rudra dipercaya oleh umat Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin yang disebut Pura Sad Kahyangan.
Pura Uluwatu berhadapan dengan Pura Batur, Pura Besakih dan Pura Andakasa. Pura Uluwatu dipercaya oleh umat Hindu di Bali sebagai tempat untuk memohon karunia untuk menata hidup di bumi. Daya wisesa yaitu kekuatan spiritual, jadi Pura Luhur Uluwatu memancarkan kekuatan spiritualnya dari ketiga Pura yaitu Pura Andakasa yang dipancarkan oleh Dewa Brahma, Pura Batur yang dipancarkan oleh Dewa Wisnu, dan Pura Besakih yang dipancarkan oleh Dewa Siwa. Tiga daya wisesa tersebut yang dibutuhkan dalam kehidupan ini. Untuk mencapai kehidupan yang sukses diperlukan tiga hal yaitu Utpati, Stithi dan Pralina secara benar, tepat dan seimbang.
Sejarah berdirinya Pura Luhur Uluwatu ini terdapat dua pendapat yaitu pada abad ke 11 menurut Lontar (pustaka kuno) Kusuma Dewa, Pura Luhur Uluwatu didirikan oleh Mpu Kuturan. Pendapat lain mengatakan bahwa Pura Luhur Uluwatu didirikan oleh Dang Hyang Nirartha yang berasal dari Kediri, Jawa Timur. Di tahun 1489 M. Akan tetapi pura ini salah satu dari enam Pura Sad Kahyangan yang disebutkan oleh Kusuma Dewa dalam Lontarnya. Terdapat enam pura yang dinyatakan sebagai Pura Sad Kahyangan yaitu Pura Besakih, Pura Lempuhyangan. Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, Pura Luhur Batukaru dan Pura Pusering Jagat.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

taman ujung


Taman Ujung, Sebuah Istana Air Bagi Raja

Taman Ujung, tempat dimana Anda dapat melihat lautan biru Bali timur serta panorama Gunung Agung, dan sekitarnya yang dipenuhi persawahan dan perbukitan yang luas yang subur. Taman Ujung adalah sebuah situs warisan dari kerajaan Karangasem, yang baru saja dipugar oleh pemerintah, bersama dengan berhektar-hektar taman dan dua buah kolam besar disekitarnya.
Taman Soekasada Ujung, juga dikenal sebagai Istana Air Ujung atau Taman Ujung, berada di wilayah paling timur Kabupaten Karangasem, di Desa Tumbu, yang berjarak sekitar dua setengah jam dari Kuta. Istana ini dibangun pada tahun 1919 oleh Raja Karangasem terakhir, I Gusti Bagus Jelantik, yang memerintah di Karangasem antara 1909 dan 1945. Letusan Gunung Agung pada tahun 1963 menghancurkan istana air dan semakin rusak akibat gempa bumi besar tahun 1979. Namun pemerintah telah melakukan pemugaran terhadap tempat ini.
Sebuah istana air yang dibangun bagi raja untuk menyambut para tamu penting dan raja-raja dari kerajaan lainnya, juga sebagai tempat rekreasi bagi raja dan keluarga kerajaan. Pada masa itu taman-taman luas bergema dengan tawa dari istri raja dan anak-anak saat mereka bersantai, seraya mencelupkan kaki mereka di kolam. Sekarang daerah ini sepi dan diisi dengan kekosongan. Beberapa wisatawan lokal dan asing sibuk mengabadikan keindahan yang tersisa untuk difoto dan menikmati suasana yang tenang disini.
Sebuah jembatan beton yang panjang menghubungkan area parkir dan area istana. Di ujung jembatan terdapat taman yang luas. Pada sisi utara terdapat sebuah bangunan persegi kecil putih di tengah kolam utama yang dihubungkan dengan dua jembatan di sisi kiri dan kanan. Bangunan ini sebelumnya berfungsi sebagai kamar tidur raja, ruang pertemuan, ruang keluarga, dan lainnya. Di sini anda dapat melihat foto-foto lama Taman Ujung dan juga beberapa foto keluarga kerajaan.
Di samping kolam utama, terdapat pula kolam dengan bale, sebuah bangunan tradisional terbuka Bali, di tengah-tengahnya. Kompleks Taman Ujung menggabungkan arsitektur Bali dan Eropa. Di puncak bukit teradapat sisa-sisa bangunan yang terlihat seperti sebuah kapel tetapi memiliki gaya khas Bali dengan ukiran di dinding. Di sisi lain, terdapat patung besar badak dan banteng di bawahnya. Dari tempat ini anda dapat menikmati pemandangan laut biru berkilauan, hutan hijau subur, dan tentu saja Gunung Agung yang perkasa yang mendominasi pemandangan langit.

Galeri Foto

Taman Ujung, Sebuah Istana Air Bagi Raja (1)
Taman Ujung, Sebuah Istana Air Bagi Raja (2)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sejarah Pura Tanah Lot

Tanah Lot, Sejarah Tanah Lot, Pura Tanah Lot ini terletak di Pantai Selatan Pulau Bali yaitu di wilayah kecamatan Kediri, Kabupaten Daerah Tingkat II Tabanan, yang pembangunannya erat kaitannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha di Pulau Bali. Di sini Danghyang Nirartha pernah menginap satu malam dalam perjalanannya menuju daerah Badung dan kemudian ditempat inilah oleh orang-orang yang pernah menghadap kepada Danghyang Nirartha dibangun bangunan suci (Pura atau Kahyangan) sebagai tempat memuliakan dan memuja Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa ) untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan. Pura atau Kahyangan ini diberi nama “Pura Pekendungan” yang sekarang lebih dikenal dengan “ Pura Tanah Lot” sebagai salah satu penyungsungan jagat. Bagaimana ikwal perjalanan Danghyang Nirartha tatkala berkeliling di Pulau Bali dan sampai ditempat ini, sebagaimana tertulis dalam babad Dwijendra Tatwa yang secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut: Pada suatu waktu Danghyang Niratha datang kembali ke Pura Rambut Siwi di dalam perjalanan beliau kelilling pulau Bali, dimana dahulu tatkala beliau baru tiba di Bali dari Brambangan (Blambangan) pada sekitar tahun icaka 1411 atau tahun 1489 M beliau pernah singgah di tempat ini. Setelah berada di Pura Rambut Siwi untuk beberapa lama, kemudian beliau melanjutkan perjalanannya menunju arah Purwa (Timur) dan sebelum berangkat paginya Danghyang Niratha melakukan sembahyang “Surya Cewana” bersama orang-orang yang ada disana. Sesudah menyiratkan (memercikkan )tirtha terhadap orang orang yang ikut melakukan persembahyangan , lalu Danghyang Nirartha keluar dari Pura Rambut Siwi berjalan menuju arah ke Timur. Perjalanan beliau ini menyusuri pantai Selatan pulau Bali dengan diiring oleh beberapa orang yang teraut cinta bhaktinya kepada Danghyang Nirartha. Dalam perjalannya ini Danghyang Nirartha dapat menyaksikan bagaimana deburan ombak laut menerpa pantai menambah keindahan alam yang sangat mengasyikkan. Terbayang oleh beliau bagaimana kebesaran Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa ) yang telah menciptakan alam semesta dengan segala isinya yang dapat membrikan kehidupan bagi manusia. Karena asyik memperhatikan dan memandang keindahan alam dengan segala isinya, sampai –sampai Dangyang Nirartha tidak merasakan kelelahan didalam perjalanannya. Sebagaimana biasanya di dalam perjalanan Danghyang Nirartha senantiasa membawa lontar dan pengrupak (pisau raut untuk menulis pada daun lontar ) sehingga apa-apa yang diangap penting baik yang dilihat maupun yang dirasakan kemudian disusun dalam bentuk kekimpoi atau gubahan lainnya. Demikian pula mengenai perjalanannya dari Pura Rambut Siwi ini, sehingga karena asyiknya beliau memperhatikan serta memandang dan memikirkan segala sesuatu yang dipandang penting dan akan digubah, tahu-tahu Danghyang Niratha sudah sampai pada suatu tempat di pantai Selatan dipantai Selatan pulau Bali. Di pantai ini terdapat sebuah pulau kecil yang terdiri dari tanah parangan (tanah keras) dan disinilah Danghyang Nirartha berhenti dan beristirahat. Tidak antara lama Dangyang Nirartha beristirahat disana, maka berdatangan kesana para nelayan untuk menghadap kepada Danghyang Nirartha sambil membawa berbagai persembahan untuk diaturkan kepada beliau. Kemudian setelah sore hari, para nelayan tersebut memohon kepada Danghyang Nirartha agar beliau berkenan bermalam dipondok mereka masing- masing, namun permohonannya ini semua ditolak oleh Danghyang Nirartha, karena beliau lebih senang bermalam di pulau kecil itu. Disamping hawanya segar, juga pemandangannya sangat indah dan dari sana belaiu dapat melepaskan pandangan secara bebas kesemua arah. Pada malam harinya sebelum Danghyang Nirartha beristirahat, beliau memberikan ajaran-ajaran seperti agama,susila da ajaran kebajikan lainnya kepada orang-orang yang datang menghadap ke sana. Tatkala itu Danghyang Nirartha menasehatkan kepada orang-orang itu untuk membangun Parhyangan ( Pura atau Kahyangan ) disana karena menurut getaran batin beliau yang suci serta petunjuk gaib bahwa tempat itu baik untuk tempat memuja Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang maha Esa ) . Dari tempat ini kemudian rakyat dapat memuja kebesaran sanghyang Widhi Wasa ( Tuhan YangMaha Esa ) untuk memohon wara nugrahaNya keselamatan dan kesejahteraan dunia. Demikian antara lain nasehat Danghyang Nirartha kepada orang-orang yang mengahadap pada malam hari itu, yang akhirnya sesudah Danghyang Nirartha meninggalkan tenpat itu, kemudian oleh orang-orang tersebut dibangunlah sebuah bangunan suci (Pura atau Kahyangan) yang diberi nama Pura Pakendungan yang kini lebih dikenal dengan sebutan Pura Tanah Lot.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


foto
TEMPO/Amston Probel

Tawuran Antar-Pelajar di Bulungan, 1 Siswa Tewas  

TEMPO.CO, Jakarta - Tawuran antar-pelajar kembali terjadi di Bulungan, Jakarta Selatan. Kali ini memakan korban. Satu pelajar tewas dan satu lainnya terluka. Menurut juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, tawuran antara siswa pelajar SMA 6 dan SMA 70 pecah pada pukul 12.20 WIB. "Setelah bubar, didapati satu korban," kata Rikwanto, Senin, 24 September 2012.

Tawuran terjadi di Bunderan Bulungan, Jakarta Selatan. Korban bernama Alawi, siswa kelas X SMA 6, berdomisili di Larangan, Ciledug Indah. "Dia mendapat luka tusuk di bagian dada."

Korban kedua, Ramdan Dinis, kelas XII SMA 6, tinggal di Jalan Piso, Bintaro, Jakarta Selatan. Dia luka di pelipis. Kedua korban dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan. Sayangnya, nyawa Alawi tak tertolong. "Dia meninggal di rumah sakit tidak lama setelah dibawa ke sana," ujar Rikwanto.

Pemicu tawuran masih belum diketahui. Polisi baru menemukan sebuah celurit di lokasi. "Dugaan kami, itu alat yang digunakan untuk menewaskan korban," ujarnya.

Hingga sekarang kasus ini masih ditangani Polres Jakarta Selatan. Personel kepolisian masih mengulik data dari sekolah. "Kami mengurai kejadian agar tidak terulang. Anggota kepolisian masih ada di lapangan mengejar pelaku."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS