BUDAYA TRUNYAN
Konon penduduk didaerah trunyan adalah penduduk asli Bali, sebelum kedatangan penduduk Bali yang merupakan keturunan "Mojopahit". Didaerah trunyan, penduduk memiliki adat pemakaman yang cukup unik. Dimana bila ada warga yang meninggal, jenasah "dimakamkan" di atas batu besar yang memiliki cekungan 7 buah. Cekungan itu sendiri terbentuk secara alamiah saat Gunung Agung meletus. Jenasah hanya diletakkan begitu saja diatas cekungan batu dengan hanya dipagari bambu anyam secukupnya. Uniknya, meskipun sudah berhari-hari dan tidak di"balsem" tetapi jenasah sama sekali tidak bau.
Rahasia mayat-mayat tidak menyebarkan bau busuk ternyata terletak pada pohon Taru Menyan yang dibiarkan tumbuh lestari dan rimbun di sekitar tempat pemakaman tersebut. Bau harum yang dikeluarkan oleh pohon Taru Menyan ini mengalahkan bau busuk yang dikeluarkan oleh jenazah yang membusuk sampai akhirnya tinggal kerangka tulang. Saya sendiri menyaksikan dari jarak kurang dari 1 meter jenasah yang sudah berumur 3 minggu, tetapi tidak sedikitpun tercium bau busuk. Konon nama Desa Trunyan diambil dari nama pohon Taru Menyan ini.
![]() | ![]() | |
| [navigasi.net] Budaya - Trunyan | ||
![]() | ![]() |
Yang perlu menjadi perhatian bila ke trunyan adalah para "Guide"-nya !. Hati-hati dengan para "Guide" liar disana, karena pada awalnya mereka cukup ramah dengan menawarkan jasa untuk mendampingi kita melihat-lihat dan menceritakan hal-hal yang terkait dengan "trunyan". Tetapi pada saat kita hendak pulang, mereka akan mendesak kita terus untuk memberikan uang jasa "Guide".













1 komentar:
suba taen ke trunyan ow................
Posting Komentar