Sejarah Pura Tanah Lot
20.30 |
Tanah Lot, Sejarah Tanah Lot, Pura
Tanah Lot ini terletak di Pantai Selatan Pulau Bali yaitu di wilayah
kecamatan Kediri, Kabupaten Daerah Tingkat II Tabanan, yang
pembangunannya erat kaitannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha di Pulau Bali.
Di sini Danghyang Nirartha pernah menginap satu malam dalam
perjalanannya menuju daerah Badung dan kemudian ditempat inilah oleh
orang-orang yang pernah menghadap kepada Danghyang Nirartha dibangun
bangunan suci (Pura atau Kahyangan) sebagai tempat memuliakan dan memuja
Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa ) untuk memohon kemakmuran
dan kesejahteraan. Pura atau
Kahyangan ini diberi nama “Pura Pekendungan” yang sekarang lebih dikenal
dengan “ Pura Tanah Lot” sebagai salah satu penyungsungan jagat.
Bagaimana ikwal perjalanan Danghyang Nirartha tatkala berkeliling di
Pulau Bali dan sampai ditempat ini, sebagaimana tertulis dalam babad Dwijendra Tatwa yang secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut:
Pada suatu waktu Danghyang Niratha datang kembali ke Pura Rambut Siwi
di dalam perjalanan beliau kelilling pulau Bali, dimana dahulu tatkala
beliau baru tiba di Bali dari Brambangan (Blambangan) pada sekitar
tahun icaka 1411 atau tahun 1489 M beliau pernah singgah di tempat ini.
Setelah berada di Pura
Rambut Siwi untuk beberapa lama, kemudian beliau melanjutkan
perjalanannya menunju arah Purwa (Timur) dan sebelum berangkat paginya
Danghyang Niratha melakukan sembahyang “Surya Cewana” bersama
orang-orang yang ada disana.
Sesudah menyiratkan (memercikkan )tirtha terhadap orang orang yang ikut
melakukan persembahyangan , lalu Danghyang Nirartha keluar dari Pura
Rambut Siwi berjalan menuju arah ke Timur.
Perjalanan beliau ini menyusuri pantai Selatan pulau Bali dengan
diiring oleh beberapa orang yang teraut cinta bhaktinya kepada Danghyang
Nirartha. Dalam perjalannya
ini Danghyang Nirartha dapat menyaksikan bagaimana deburan ombak laut
menerpa pantai menambah keindahan alam yang sangat mengasyikkan.
Terbayang oleh beliau bagaimana kebesaran Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan
Yang Maha Esa ) yang telah menciptakan alam semesta dengan segala
isinya yang dapat membrikan kehidupan bagi manusia.
Karena asyik memperhatikan dan memandang keindahan alam dengan segala
isinya, sampai –sampai Dangyang Nirartha tidak merasakan kelelahan
didalam perjalanannya.
Sebagaimana biasanya di dalam perjalanan Danghyang Nirartha senantiasa
membawa lontar dan pengrupak (pisau raut untuk menulis pada daun lontar )
sehingga apa-apa yang diangap penting baik yang dilihat maupun yang
dirasakan kemudian disusun dalam bentuk kekimpoi atau gubahan lainnya.
Demikian pula mengenai perjalanannya dari Pura Rambut Siwi ini, sehingga
karena asyiknya beliau memperhatikan serta memandang dan memikirkan
segala sesuatu yang dipandang penting dan akan digubah, tahu-tahu
Danghyang Niratha sudah sampai pada suatu tempat di pantai Selatan
dipantai Selatan pulau Bali.
Di pantai ini terdapat sebuah pulau kecil yang terdiri dari tanah
parangan (tanah keras) dan disinilah Danghyang Nirartha berhenti dan
beristirahat. Tidak antara
lama Dangyang Nirartha beristirahat disana, maka berdatangan kesana para
nelayan untuk menghadap kepada Danghyang Nirartha sambil membawa
berbagai persembahan untuk diaturkan kepada beliau.
Kemudian setelah sore hari, para nelayan tersebut memohon kepada
Danghyang Nirartha agar beliau berkenan bermalam dipondok mereka masing-
masing, namun permohonannya ini semua ditolak oleh Danghyang Nirartha,
karena beliau lebih senang bermalam di pulau kecil itu.
Disamping hawanya segar, juga pemandangannya sangat indah dan dari
sana belaiu dapat melepaskan pandangan secara bebas kesemua arah.
Pada malam harinya sebelum Danghyang Nirartha beristirahat, beliau
memberikan ajaran-ajaran seperti agama,susila da ajaran kebajikan
lainnya kepada orang-orang yang datang menghadap ke sana.
Tatkala itu Danghyang Nirartha menasehatkan kepada orang-orang itu
untuk membangun Parhyangan ( Pura atau Kahyangan ) disana karena menurut
getaran batin beliau yang suci serta petunjuk gaib bahwa tempat itu
baik untuk tempat memuja Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang maha Esa ) .
Dari tempat ini kemudian rakyat dapat memuja kebesaran sanghyang Widhi
Wasa ( Tuhan YangMaha Esa ) untuk memohon wara nugrahaNya keselamatan
dan kesejahteraan dunia.
Demikian antara lain nasehat Danghyang Nirartha kepada orang-orang yang
mengahadap pada malam hari itu, yang akhirnya sesudah Danghyang
Nirartha meninggalkan tenpat itu, kemudian oleh orang-orang tersebut
dibangunlah sebuah bangunan suci (Pura atau Kahyangan) yang diberi nama
Pura Pakendungan yang kini lebih dikenal dengan sebutan Pura Tanah Lot.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar